Chatib Sulaiman : Arsitek Perlawanan Rakyat Semesta Yang Gugur di Situjuah Oleh : Fauzi Tarmizi S.Ip

Oplus_16908288

 

Sumbartodaynews.id-Chatib Sulaiman di lahirkan pada tahun 1906 di Nagari Sumpur tepi danau Singkarak kecamatan Batipuh Selatan kabupaten Tanah Datar, dia adalah anak keenam dari tujuh orang bersaudara, lima orang laki-laki dan dua orang perempuan dari pasangan H. Sulaiman dan Siti Rahmah. Ayahnya, H.Sulaiman adalah seorang pedagang rempah di pasa gadang padang yang di pailitkan oleh pajak (Blatsting) Belanda pada waktu itu dan Sumpur. Ia bersuku Jambak bersako Datuk Ameh, sedangkan ande (ibunya) Siti Rahmah adalah wanita terpandang di negerinya, Sumpur. Siti Rahmah adalah seorang wanita hafiz Al-Qur’an bersuku Sumagek bersako Datuk Bandaro Sati, di dalam ranji keluarga ummu Sayiddah Aminah.

Si Cati, begitulah Chatib Sulaiman dipanggil, seorang anak surau yang juga piawai menggesek biola dalam mengisi suara di bioskop bisu kala itu. Kepandaiannya dalam menggesek biola itu di asah oleh mamaknya (paman) saudara laki-laki dari andenya, Siti Rahmah yang bernama Mohammad Noer Datuk Bandaro Sati, seorang violis terkenal pada waktu itu di Padang Sumatera Barat.

Pada usia 8 tahun, Chatib Sulaiman ikut dengan ayahnya merantau di pasa gadang Padang untuk bersekolah di sana, mulai dari: Gouvernementschool, di lanjutkan di HIS dan tingkat lanjutan nya di MULO, Padang. Saat bersekolah di MULO, ia dikeluarkan (Droping) dari sekolah dikarenakan sikap membangkang dan menentangnya, akan tetapi hal itu tidaklah menghalanginya untuk tetap belajar. Chatib Belajar otodidak dengan banyak membaca buku seperti, bahasa, ekonomi, sosial barat dan timur dan buku-buku lainnya. Ia menguasai beberapa bahasa yang di pelajari secara otodidak dan paling fasih adalah bahasa Inggris.

Dengan banyaknya pengetahuan yang dimilikinya, ia menjadi guru bagi kawan-kawannya terutama di kepanduan pendidikan semi militer pribumi. Chatib juga mengajar Ilmu politik, ketentaraan, ekonomi dan lain sebagainya sebagai modal dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda, selain itu ia juga suka menulis di tabloid Pemberi Sinar, Masyarakat Baru, koran atau majalah di zaman Jepang dan beberapa media lainnya. ( khatib sulaiman oleh Leon Salim 1987).

Di masa penjajahan Belanda, Chatib Sulaiman dan kawan-kawan pernah menjadi tahanan politik dan dibuang ke Kutacane Aceh pada tanggal 12 Maret 1942 karena melakukan protes terhadap pemerintahan kolonial untuk melakukan bumi hangus, untunglah Jepang masuk ke Indonesia setelah menang pada perang dunia ke dua dengan sekutu sehingga ia dan kawan-kawan terlepas dan tidak menjalani eksekusi mati dikarenakan Belanda kocar kacir melarikan diri ke gunung setan akibat kedatangan tentara Jepang dan membebaskan para tawanan.

Hal itu di jelaskan oleh sahabatnya, Leon Salim yang sama-sama ikut di buang. (Prisoners at Kutacane Leon Salim). Sepulang dari Kutacane, Chatib sulaiman dan kawan-kawan ditemukan dalam kondisi yang sangat menyedihkan saat penjemputan pemimpin dari pembuangan. Chatib dan kawan-kawannya di temukan di gunung Setan dalam keadaan kelelahan dan kelaparan karena tidak cukup makan saat ingin berjalan pulang, sedangkan bapak Ir.Sukarno bersama istrinya ibu Inggit di bawa ke Padang dari pembuangan di Bengkulu dan menginap di rumah dr. Wawaruntu karena Belanda tidak berhasil menyingkirkan ke luar negeri ( Sejarah perjuangan KEMERDEKAAN R.I di MINANGKABAU 1945_1950 ).

Dalam konsep perjuangan, Chatib Sulaiman memandang secara luas, bukan hanya perlawanan secara politik dan militer saja tapi ada hal yang lebih mendasar yaitu pendidikan dan perekonomian, sebab kebodohan dan kemiskinan adalah sumber penyakit sehingga sebuah bangsa mudah untuk dijajah. Hal tersebut di buktikan oleh Chatib sulaiman dalam konsep kepemimpinan dalam Perjuangan dalam Politik dan ketentaraan diantaranya:

a. Kepanduan Indonesia Muslim
KIM di inisiasi oleh Chatib Sulaiman sebagai tempat pelatihan semi militer pemuda-pemuda pengabungan dari PMD(Pelajar Murid Diniyah School) dan kepanduan El-hilal Sumatera Thawalib, dimana Padang panjang pada masa itu adalah pusat pendidikan Islam modern mulai dari Semenanjung Melayu, Malaysia, Singapura, Sulawesi dan Kalimantan serta daerah daerah sekitarnya.

b. GIYUGUN / Laskar rakyat
Di zaman Jepang, Chatib Sulaiman lebih adaptif dalam melakukan perjuangannya, karena melihat kekejaman Jepang terhadap Filipina dan Korea maka kita harus bersiasat menghadapinya dan itu di tulis dalam buku yang di tulisnya, dan Jepang pun sangat benci dengan penjajahan yang di lakukan oleh sekutu. ( “Sumber Aliran Dalam Pergerakan Indonesia: Memperingati 40 Tahun Pergerakan Kemerdekaan di Indonesia Tahun 1908-1948, Author; Chatib Soleiman & A.Latief.

Diawali dengan pembentukan PEMUDA NIPPON RAYA oleh Chatib Sulaiman dengan tujuan untuk melatih para pemuda dalam ketentaraan karena HEIHO yang di bentuk Jepang, tidak berhasil merekrut pemuda untuk ikut berperang melawan sekutu. Pada akhirnya di bubarkan oleh Jepang sendiri karena dicurigai hanya pura-pura pro terhadap Jepang dan hanya untuk mengambil hati pemerintahan Jepang. Chatib Sulaiman di tangkap karena pihak mata-mata Jepang mencium tujuannya bukan untuk kepentingan Jepang, namun pada akhirnya di lepas lagi karena Jepang membutuhkan Chatib karena ia memiliki pengaruh besar untuk menyusun kekuatan Asia Raya di Sumatera.( Fatimah enar dan Kawan-kawan 1976).

Pada awalnya di usulkan pembentukan laskar rakyat di Sumatera, tapi tidak di setujui karena Jepang belum begitu percaya, tapi pada akhirnya di karenakan perang Asia Timur Raya mulai tersendat maka pemerintahan Jepang menyetujui dengan nama GIYUGUN (tahun 1942) yang artinya laskar sukarela, di Sumatera bernama Sumatera Giyugun dan di pulau Jawa bernama Java Boi Giyugun lazim di sebut PETA dalam bahasa pribumi. Chatib berujar,“ Apalah arti sebuah nama yang penting kita tetap tidak terpengaruh dengan hasutan Jepang dan inilah kesempatan kita untuk melatih tentara dalam mencapai tujuan Indonesia merdeka.”

Di dalam pembentukan awal Giyugun untuk memimpin suatu badan yang bernama GYU GUN KO EN KAI, di pakailah filosofi Tigo Tungku Sajarangan. Dari kaum cadiak pandai muncul Chatib Sulaiman, dari kaum ulama muncul H. Mahmud Yunus seorang tokoh Pendidikan Islam Modern ( di abadikan sebagai nama kampus UIN di Batusangkar) dan dari kaum adat muncul Ahmad Yacoub Dt. Simaradjo (Ketua MTKAAM dan Pendiri laskar dubalang minang kabau), GYU GUN KO EN KAI di sepakati diketuai oleh Chatib Sulaiman ( Sejarah perjuangan R.I. di minang kabau 1945_1950 Balai Pustaka 1978. Giyugun di dukung penuh oleh tokoh-tokoh agama pada waktu itu seperti Syech Sulaiman Ar- Rosuli Canduang, Syech Djamil Jambek di Bukit tinggi, Syech Ibrahim Musa Parabek, Syech Abbas Padang Japang, Syech Daud Rasyidi Balingka dan beberapa tokoh lainnya karena mengerti dengan tujuan dari Chatib Sulaiman dan kawan-kawan.

Inilah saatnya mereka menyusun kekuatan sebab untuk menuju kemerdekaan kita butuh tantara yang kuat, seperti Syech Djamil Jambek dan ke empat (4) orang putranya, masuk menjadi opsir Giyugun menunjukkan dukungan terhadap rencana dan tujuan Chatib Sulaiman.

Di Sumatera Giyugun ada nama-nama seperti Ismail Lengah, Ahmad husein, Dahlan ibrahim, DI Panjaitan, Abdul Halim, Leon Salim dan nama-nama lainya yang menjadi opsir dengan pangkat tertinggi letnan dua, sedangkan di laskar wanitanya muncul nama-nama seperti, Rasuna Said, Rahmah El Yunusiah, Darwisah Kocek, Laminah Kahar, Ratna Sari, Dainan Muhammad. Nama-nama lainya yang bertugas selain pelatihan ketentaraan juga untuk mengumpulkan sumbangan untuk pembiayaan pelatihan sehingga kita tidak bergantung kepada pihak jepang.
*Volstrad zaman penjajahan Belanda dan Gityo Cuo Sangi Kai zaman Jepang.

Chatib Sulaiman adalah anggota Volstrad dari kaum pribumi yaitu DPR di zaman penjajahan Belanda yang memberi usul kepada pemerintahan kolonial tapi tidak boleh protes terhadap keputusan Belanda dan tidak diberikan anggaran. Di Volstrad, Chatib Sulaiman memprotes keterwakilan umat muslim yang sangat sedikit dan itu di tulisnya dalam buku yang berjudul Sikap kaum moeslimin Indonesia pada tahun 1939 sehingga akan terjadi pencabutan karya tulis tersebut oleh pemerintah Belanda. Pada zaman pendudukan Jepang, Chatib Sulaiman menjadi Wakil Gityo Cuo Sangi Kai yang diketuai oleh M.Syafei dimana anggotanya seperti Dt. Pamuncak Alam Sati, Bagindo Aziz Chan, DR. Rasyidin, Gafar Jambek, Mohm. Saleh Dt. Bandaro Putiah, Dt Radjo Biaro, Zainudin Sutan Kerajaan, Mr Mohammad Nasroen, Dr A. Hakim, Siradjudin Abbas Dt Bandaro dan beberapa nama lainnya sekitar 40 orang tersebar di Sumatera.

*Front Pertahanan Nasional ( FPN ).

Chatib Sulaiman menjadi pimpinan sekretariat Front Pertahanan Nasional ( FPN ) yang di mana ketuanya adalah Buya Hamka akan tetapi di masa Amir Syarifudin menjabat Perdana Menteri, Chatib Sulaiman di bisik kan oleh sahabatnya Sutan Syahrir untuk mulai mundur teratur di karenakan FPN telah banyak di susupi oleh Komunis, dan pada akhirnya Chatib Sulaiman fokus kepada MPRD dan BPNK yang di tukanginya ( Jurnal Buya Hamka komunis dan kuminis).
Markas pertahanan Rakyat Daerah (MPRD) dan Badan Pertahanan Nagari dan Kota (BPNK).

MPRD di bentuk pada waktu itu berdasarkan kesepakatan seluruh Dewan Pimpinan Daerah (DPD), dengan tujuan untuk menyatukan banyak kelompok dan partai dalam perjuangan bersama perlawanan rakyat dan tentara pada waktu itu menjadi satu komando dan Chatib Sulaiman lagi-lagi di Daulat sebagai pimpinan dari MPRD , hal itu tidak lepas dari pengaruh besarnya terhadap ketentaraan dan kekuatan sipil, tentulah diperlukan seorang tokoh yang bisa menjadi pemersatu elit sipil dan elit militer pada waktu itu ( etnik,elit dan integrasi nasional Minangkabau 1945-1950 : Brigjen Syaafroedin Bahar). MPRD membawahi Markas Pertahanan Rakyat Kecamatan (MPRK) dan Badan Pertahanan Nagari dan Kota (BPNK) dan di dalam MPRD di gabungkan sekretariat FPN dalam susunan perang total untuk mengobarkan semangat perjuangan rakyat dalam pertahanan terhadap serangan militer Belanda.
Komisaris PNI Baru di Sumatera Barat,
Chatib sulaiman di angkat sebagai komisaris PNI Baru di Sumatera Barat yang didirikan oleh Mohammad Hatta Bersama St.Syahrir di tunjuk saat kongres PNI Baru di Malang pada tahun1932.

Chatib Sulaiman salah satu anggota Komite Nasional Indonesia (KNI) Pusat yang mewakili Sumatera Barat sebagai Dewan Eksekutif terutama dalam bagian pembentukan ketentaraan di Indonesia (Oktober 1945). Keresidenan di Sumatera Tengah. Chatib Sulaiman menolak saat di calonkan untuk menjadi residen ke III ( tahun 1946) dan M. Jamil yang menjadi residen (18/03 1946 sd 1/07 1946) pada akhirnya menggantikan rusad residen ke II (1/12 1945 sd 15/03 1946) , dan Mr. S.M Rasjid adalah Residen ke IV, di waktu penunjukan residen pertama (I) yaitu M. Syafei di minta untuk jadi residen oleh tokoh-tokoh pimpinan daerah pada waktu itu di pasa Gadang Padang. M.Syafei menolak dan pada akhirnya ia meminta waktu untuk membicarakan hal ini dengan Chatib Sulaiman di Padang Panjang dan sAnwar St. Saidi di Bukittinggi. Setelah itu, barulah M.Syafei menyanggupi dijadikan Residen pada waktu itu ( 15/9 1945 sd 15/11 1945) sumber; Sejarah perjuangan R.I. di minang kabau 1945_1950 Balai Pustaka 1978.

Perjuangan Chatib Sulaiman di bidang Pendidikan dan ekonomi.

* Mendirikan perguruan Merapi Institute di Padang Panjang yang dibantu pendanaannya oleh Anwar Sutan Saidi ( Salah satu pendiri BI).

* Mendirikan sekolah Islam modern bernama IslamIc Seminary di kampung Nias yaitu tempat mendidik guru-guru untuk mengajar di Madrasah, dimana di Padang Panjang sudah ada dua sekolah Islam modern yang besar pada waktu itu, Sumatera Thawalib ( 1911) yang di dirikan oleh Haji Rasul ( ayah Buya Hamka) dan Diniyah School (1915) yang didirikan oleh Zainudin Labia El-Yunusi ( kakak Rahmah El-Yunusiah) dengan tujuan untuk menambah kemajuan di dalam dunia pendidikan Islam.

* Memimpin di HIS Muhammadiyah Bersama buya Adam BB dan mengajar di Madrasah Irsyadun Nas (MIN).

*Menggagas untuk mendirikan beberapa koperasi di daerah sebagai basis untuk melawan monopoli kolonialis terhadap hasil bumi contohnya koperasi kapur di Padang Panjang, koperasi nelayan di Siak, dan beberapa koperasi lainnya, sebab koperasi adalah alat bertahan untuk manusia yang lemah dan alat usaha senasib seperuntungan. Praktek dari teori ekonomi yang ditulisnya dalam tabloid Pemberi Sinar tahun 1933, dan Chatib Sulaiman memimpin N.V. Bumi Poetra di Bukittinggi dalam bentuk eksport dan import hasil bumi pribumi.

* Menjadi anggota Mukmin Minangkabau Bank Indonesia (B.I) di tahun 1940, yaitu bersepakat para ulama dan kaum cadiak pandai, pada waktu itu di setujui oleh ulama-ulama besar di Minangkabau seperti : Syech Sulaiman Ar- Rosuli Canduang, Syech Djamil Jambek Bukittinggi, Syech Ibrahim Musa Parabek, Syech Abbas Padang Japang, Syech Daud Rasyidi Balingka. Sedangkan dari cadiak pandai pada waktu itu ada Chatib Sulaiman, Anwar St Saidi, Mohammad Nasrun, Siradjudin Abbas dan lain-lainnya.

*Syahid di Situjuah
Chatib Sulaiman memimpin rapat perlawanan Rakyat Semesta pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia ( PDRI) di Sumatera Tengah. Rapat di hadiri oleh pimpinan tinggi militer dan sipil untuk melakukan penyerangan secara serempak terhadap Belanda. Rapat selesai tengah malam dan sebagian ada yang menginap di surau dalam lurah kincia Situjuah Batur, di pagi menjelang subuh tiba-tiba bergetar mustang udara lapang, runding bersela dengan senapang. Peserta rapat di sergap oleh tentara Belanda dan terjadilah peristiwa tragis itu. Chatib Sulaiman ditemukan berlumuran darah di tembus oleh peluru Belanda di tepi lurah kincia dengan kondisi yang sangat mengenaskan, ada sekitar 68 orang pejuang yang tewas bersama Chatib Sulaiman. Pada akhirnya Chatib Sulaiman mengorbankan nyawanya untuk mencapai suatu cita-cita mulia sebuah takdir yang telah di tetapkan Allah SWT. Belanda berhasil menghentikan langkahnya tapi tidak dengan jejak dan semangatnya, ketika mulai turun dari rumah gadang sampai menuju syahid ke lurah Kincia Situjuah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *